Sudah
lama ku mengenalnya, dan terkadang melihatnya berada di sekitar rumahku. Kami
hanya bersebelah gang namun untuk menyapa saja aku tak memiliki keberanian. Dan
akhirnya, Tuhan memberikan ku kesempatan selangkah lebih mengenalnya. Saat itu
ada beberapa tugas yang harus ku selesaikan dan aku tak dapat menyelesaikannya
sendiri, disaat itulah aku mencari seseorang yang dapat membantu menyelesaikan
tugas terkutukku. Ternyata dia, dia adalah senior ku di kampus. Dengan kesabaran
dia mengajariku yang dapat dikatakan orang yang
lama untuk menangkap sesuatu yang baru. Hingga selesailah tugasku yang
ku anggap tak mungkin bisa ku kerjakan. Mulai saat itu lah obrolan antara kita
semakin panjang. Senda gurau pun terjadi setiap saat. Kamu humoris, iya humoris
sama seperti aku, dan aku semakin jatuh hati padamu.
Setiap
kali ku membuka mata ku merasa hari yang biasa ku anggap berat untuk dilalui,
begitu terasa ringan dan singkat untuk dilalui semenjak ku mengenalmu. Hanya
dengan beberapa hari kamu datang kerumah untuk membantu menyelesaikan tugas, sudah
membuatku semakin mengagumimu dengan sangat. Oh Tuhan, aku tak dapat berhenti
memikirkannya.
Ternyata
aku terlalu jauh mengaguminya hingga Tuhan merasa cemburu karena aku lebih
mengagumi ciptaanNya dibanding Dia.
Dengan perlahan aku mengetahui ternyata tak hanya aku yang mengaguminya.
Dia begitu baik dengan siapapun yang sedang mendekatinya. Cemburu? Siapa yang
tidak cemburu mengetahui orang yang ia kagumi ternyata berbagi hati dengan yang
lain. Tapi tak ku tunjukkan rasa sedih yang menggoncang hati hingga membuat
suasana hati berubah menjadi buruk
secara signifikan.
Obrolan
hinga larut malam mulai ku hindarkan, senda gurau denganmu dapat mudah
dihitung. Kenyataan sesungguhnya aku merindukanmu, merindukan obrolan panjang
yang biasa kita lakukan. Tawa kecil hingga besar terlukis hanya dengan membaca
kata-katamu. Dengan mudahnya senyum hingga tawa tersebut hilang. Dibalik caraku menghindarimu terdapat
kehampaan yang begitu dalam.
Aku
bangkit. Aku menyadari bahwa aku punya Tuhan yang tahu segalanya, segala rasa
gundah telah mengagumimu. Dulu tiada namamu di setiap sujudku, namun sekarang
ku tambahkan namamu dengan keyakinan yang begitu kuat. Begitu berlebihan?
Bagiku tidak, dengan inilah aku berjuang mempertahankanmu, berjuang menepis
keraguan ku untuk berhenti mengagumimu. Saat tingkah laku tidak dapat membuatmu
sadar bahwa ada aku yang menunggu, doa merupakan cara terbaik untuk
menyampaikan rasa yang ku pendam sendiri dan rasa rindu ingin mengulang
kenangan yang selalu melekat dipikiran.
Agar Tuhan tidak cemburu denganmu dan tetap menjagamu untuk aku hingga
waktu tiba, dia mendekatkan aku dan kamu kembali dengan caraNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar