Sabtu, 13 Februari 2016

Pertengahan Jalanku

Tahun-tahun berlalu lamanya. Aku bertahan meyakinkan hati untuk menemukan separuh hatiku yang menghilang. Bekal kepercayaan seadanya aku berjalan pincang, dan berdarah penuh luka untuk  berjuang mencari, namun semakin aku bergerak maju cinta itu semakin menjauh sangat jauh.  Rasa ingin menyerah kadang datang untuk membujuk, serta keputusasaan tampak mentertawakan ku begitu jelasnya, air mata selalu menemani setiap jejak langkahku. Karena untuk apa aku berjuang untuk cinta yang belum tentu aku miliki nantinya. Namun disetiap insan manusia pasti ingin merasakan kebahagiaan dengan seseorang yang ia cintai. Rasa ingin menyerah berubah menjadi semangat yang membara, dan keputusasaan berubah menjadi lampu penerang untuk ku menemukan seseorang yang telah membawa jauh separuh hatiku. Rintangan dan masalah silih berganti untuk membuatku duduk tertegun dan menerima yang seharusnya terjadi.

                Namanya selalu terukir indah disetiap bait doa yang penuh dengan harapan. Aku bukanlah orang yang mudah takluk dengan takdir yang masih dapat diubah, selama usaha itu masih dapat kulakukan, akan aku kerjakan sebaik mungkin.

Bagaimana aku dapat tenang bila seseorang itu selalu merasuk ke dalam pikiran disetiap waktu, merakit kembali kejadian yang selalu ingin ku lupakan. Semakin keras ku ingin pergi ia seakan meggiringku kembali untuk tetap didalam ingatan tentangnya.

Sekarang aku sudah di pertengahan jalan. Ku lihat cahaya terang menerangi cinta yang selama ini ku cari. Dengan cepat ku berlari, dan sekarang aku sudah tepat disampingnya namun ia  seperti tak merasakan kehadiranku. Separuh hatiku yang tertinggal kini ternyata telah mati, tampak matanya tertuju kedepan menyorot seseorang yang melangkah menjauh pergi darinya. Saat ku ingin menyentuhnya, ia telah berlalu mengikuti jejak seseorang yang semakin pergi menjauh.


Tak banyak yang dapat ku lakukan lagi, semangat yang membara dan perjuangan kini hampa dan tampak hancur tak berbentuk. Keinginan ku untuk melanjutkan cerita yang sempat terhenti kini berhenti tepat di pertengahan jalan. Keyakinan yang pernah membuatku bangkit kini tampak akan ku simpan bersama rasa kecewa dan terluka. Dan pada akhirnya aku harus berhenti dan mengalah, serta membiarkan separuh hati yang tertinggal itu mati. Dan ikut bahagia melihat kepergiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar