Bukan bermaksud menganggumu. Aku
hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu. Apa yang sedang kamu lakukan, dan apa
yang sedang kamu pikirkan.
Karena aku masih belum dapat menyadari cinta itu berhenti dengan cepatnya, baru saja aku merasa nyaman saat menatap wajahmu, tertawa mendengar leluconmu, dan bahagia disampingmu.
Bukankah kata cinta itu baru saja terucap, buktinya masih terasa hangat di telingaku dan masih kuat di memoriku, kata-kata indah yang selalu terselip di pagi buta dan di malam sunyi.
Karena aku masih belum dapat menyadari cinta itu berhenti dengan cepatnya, baru saja aku merasa nyaman saat menatap wajahmu, tertawa mendengar leluconmu, dan bahagia disampingmu.
Bukankah kata cinta itu baru saja terucap, buktinya masih terasa hangat di telingaku dan masih kuat di memoriku, kata-kata indah yang selalu terselip di pagi buta dan di malam sunyi.
Keluh kesahmu kini tak lagi
menjadi milikku sendiri, namun telah terbagi untuk setiap cinta yang berlomba
menemukan jalan keluar terbaik dari kesahmu. Pertemuan juga telah terbagi untuk
setiap hati yang merindukanmu. Lalu bagaimana dengan rinduku yang selalu kamu
abaikan? Ia selalu bertanya kemana ia
harus berhenti.
Keluh kesahku tak lagi mencuri perhatianmu, kesedihanku bukan lagi separuh dari kesedihanmu, dan kesenanganku tak lagi kamu lukis pada senyummu.
Keluh kesahku tak lagi mencuri perhatianmu, kesedihanku bukan lagi separuh dari kesedihanmu, dan kesenanganku tak lagi kamu lukis pada senyummu.
Mengapa kamu begitu cepat
berubah? Seakan kamu lupa dengan kata cinta yang selalu melukis indahnya
percakapan, dan manisnya kenangan disetiap pertemuan kita.
Genggaman erat tangan itu seakan meyakiniku bahwa kamu dapat melindungi, dan menghapus setiap tetesan air mata kesedihan. Kamu berhasil membuatku percaya terlalu dalam.
Kamu bukan seperti yang ku kenal selama ini. Sikap dan sifatmu mulai tergambar jelas dari balik kain putih yang selama ini kamu gunakan untuk menutup mata dan hatiku. Rasa senang dan nyaman berubah menjadi duka, kepercayaan telah menjadi kekecewaan. Namun cinta ini tak ingin menjadi benci, sayang ini tetap ingin menjadi dirinya sendiri. Bukan ku tak berusaha untuk merubahnya, aku telah mencoba segala cara untuk menuntun mereka agar berubah, tapi yang ku dapat hanyalah lelah. Semakin aku berusaha melupakanmu, semakin kuat ingatanku tentang dirimu dan kenanganmu.
Genggaman erat tangan itu seakan meyakiniku bahwa kamu dapat melindungi, dan menghapus setiap tetesan air mata kesedihan. Kamu berhasil membuatku percaya terlalu dalam.
Kamu bukan seperti yang ku kenal selama ini. Sikap dan sifatmu mulai tergambar jelas dari balik kain putih yang selama ini kamu gunakan untuk menutup mata dan hatiku. Rasa senang dan nyaman berubah menjadi duka, kepercayaan telah menjadi kekecewaan. Namun cinta ini tak ingin menjadi benci, sayang ini tetap ingin menjadi dirinya sendiri. Bukan ku tak berusaha untuk merubahnya, aku telah mencoba segala cara untuk menuntun mereka agar berubah, tapi yang ku dapat hanyalah lelah. Semakin aku berusaha melupakanmu, semakin kuat ingatanku tentang dirimu dan kenanganmu.
Yang dapat kulakukan sekarang adalah
sedikit demi sedikit berhenti mencari kabarmu, lalu tak menjadikan percakapan denganmu
sebagai semangat dan yang paling kutunggu-tunggu, mencoba memadamkan rasa cemburu
dengan rasa ikhlas melepasmu, dan terkahir tak mengharapkan kamu kembali untuk
memperbaiki kekacauan setelah kepergianmu.
Aku pernah menjadi orang yang
sangat berbahagia sebelum kehadiranmu, dan berarti kebahagiaanku bukan
bergantung padamu. Kamu mungkin adalah ujian yang harus ku lalui, darimu aku
belajar untuk bersabar dan tetap setia walau selalu dihadiakan kekecewaan. Banyak hal yang harus kamu ketahui, tak akan ada cinta dan sayang yang sama, tak akan ada perempuan sesabar aku menunggumu untuk sadar akan kehadiranku, tak akan ada lagi pengorbanan hanya demi mencintai pria biasa. Aku
yakin setelah aku berhasil melewati ujiannya(kamu) aku pasti dapat kebahagiaan sepenuhnya tetapi tidak denganmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar