Minggu, 17 Mei 2015

Sorotan tajam

Dinginnya malam terasa merasuk ke dalam pori-pori kecilku lalu merambat menusuk tulang. Detak jarum jam terdengar kecil oleh kedua telingaku. Suasana sepi menambah dinginnya malam ini. Aku terbaring, dan mataku masih terjaga sambil memandangi lampu kamar yang benderang menyinari setiap sudut kamar. Malam ini tak jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya dimana aku selalu terbayang akan pertemuan saat itu. Selalu ku putar ulang dalam memoriku dengan sangat rinci setiap detik kenangan pertemuan itu.

                Sorotan mata itu....
Pada malam itu kita berjanji untuk mempertemukan rindumu dan rinduku disuatu kafe favoritku. Aku sengaja untuk duduk di dekat jendela agar aku dapat melihat kedatanganmu, dengan ditemani secangkir cokelat dingin. Menit demi menit berlalu, tak terasa 20 menit sudah ku menatap keluar kaca kafe. Orang-orang datang silih berganti, mereka masuk dengan menggandeng pasangannya masing-masing dan memesan minuman sambil bercanda gurau untuk saling bertukar kebahagiaan. Terdengar tawa-tawa kecil ditelingaku yang membuat hati ini semakin iri. Embun kecil mulai keluar dari dinding permukaan gelas cokelatku yang menandakan aku sudah lama duduk untuk menunggu terwujudnya janji kita. Sesekali ku melihat handphone untuk memastikan kamu memberi kabar. Benar saja, satu notifikasi pesan darimu yang mengatakan bahwa kamu baru saja menyelesaikan suatu pekerjaan dan akan segera datang. Akhirnya air mata kekecewaan tidak jadi keluar dari mataku. Ku teguk cokelat dingin untuk menenangkan pikiran dan hati, lalu aku lipat lagi tanganku dengar rapi seperti anak TK yang sedang duduk menunggu seorang guru masuk untuk memberikan pelajaran.
Tak lama kulihat kamu datang dengan motormu dan langsung memarkirkannya dengan rapi. Seiring dengan langkah kakimu yang semakin mendekati pintu masuk hati ini semakin berdetak sangat cepat, napas semakin sesak, hingga jemari tangan dan kakiku terasa begitu dingin, rasanya seperti disuruh untuk mengerjakan soal oleh guru killer dan tidak mengetahui bagaimana cara untuk mengerjakannya.
Akhirnya kamu masuk dengan mengenakan baju bewarna hitam dengan tas kecil yang diselempangi. Untuk menghilangkan sedikit rasa grogi, aku menyuruh kamu untuk memesan minuman dan dengan segera meneguk kembali cokelat dingin yang kini tak lagi berasa.
Lalu kamu kembali dengan membawa sebotol air mineral dan semangkuk hidangan kecil. Aku hanya memandangi dan tersenyum melihat setiap gerak-gerik tingkahmu. Tak dapat ku bendung lagi rasa bahagia yang sesakkan dada, aku tak menyangka dapat melihat kembali mata indahmu yang berbinar, sangat ku rindukan bertahun-tahun lamanya. Bila ku ingat mata indahmu, muncul kembali memori lama perjumpaan pertama kita yang pada saat itu kamu menatapku begitu tajam, ku lihat dengan yakin sorotan matamu memancarkan cinta tulus dan kesetiaan membuat hatiku bergetar hingga membuat pipiku bersemu merah.  Itu adalah salah satu alasan mengapa aku bersabar menunggu kedatanganmu
Dan malam itu kamu kembali menatapku dengan indahnya, namun sayang aku tak dapat lagi merasakan cinta dan kesetiaan yang tulus melalui sorotan binar matamu, hanya kesedihan dan penyesalan yang kurasa, karena aku tersadar kamu telah dimiliki oleh seseorang disana.
Waktu semakin larut, dan akhirnya kita memutuskan untuk mengakhiri pertemuan sembunyi-sembunyi ini. Kamu menyempatkan untuk mengantarkan ku pulang. Sepanjang perjalanan kamu masih sempat untuk bercerita hal yang sangat kuharap itu akan benar-benar kamu lakukan untukku. Aku tak ingin pertemuan ini berakhir! Aku masih ingin duduk berdua denganmu disini. Berbagi cerita yang bertahun-tahun terkubur.  Aku masih ingin mengingatkanmu tentang  ‘KITA’ .
“Kita” yang hancur karena kebodohan dan keegoisanku membiarkanmu pergi, melepaskanmu dengan begitu mudahnya setelah kamu berjuang mati-matian untuk tetap setia menunggu hingga aku sadar dan mengetahui bahwa cintamu putih begitu tulus.
Disaat aku mulai tersadar akan besarnya cintamu,  kamu sudah bertemu dengan cinta yang dapat membalas semua pengorbananmu. Aku sudah sangat terlambat untuk menarik kembali cintamu.
Saat ini aku hanya dapat mengenang pertemuan singkat itu. Akan aku simpan sangat dalam di memori kecil, ku bungkus dengan manis dari serpihan sisa cintamu, lalu ku hias dengan kenangan indah saat bersamamu. Dengan begitu, kamu akan tetap menjadi yang terindah dan tak terlupakan. Kamu akan kujadikan pelajaran berharga dan penyesalan terburuk yang pernah aku lakukan.

                                                -Bahagiamu...bahagiaku-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar