Senin, 27 Oktober 2014

Luka semu

Sekali lagi jariku memaksa aku ‘tuk menuliskan sebuah kisah tentangmu. Hati sudah menggebu untuk mengutarakan semuanya disini. Tentang kamu yang baru saja datang dan telah membawaku ke dunia mu yang bagiku penuh dengan luka namun bahagia. Tak tahu harus bagaimana aku memulai ceritamu. Ceritamu begitu abstrak, tak berbentuk apapun! Namun aku dapat mengartikannya, karena aku selalu mencatat detail semua dari ceritamu.
Mungkin aku adalah salah satu dari mereka yang menaruh hati padamu. Bukan karena fisik, atau materi. Namun kekocakkan tingkahmu yang dapat menghapuskan kesedihan, bukan hanya kesedihanku mungkin juga kesedihan setiap orang yang saat itu berada didekatmu.

Kamu tahu tentang perasaan ini, karena setiap malam aku tak pernah absen untuk selalu menceritakan keadaan perasaanku yang selalu berteriak rindu ingin bertemu dengan senyuman manis itu. Kamu mengetahui alasan tetesan air mata disetiap sunyinya malam. Dan kamu mengetahui penyebab luka yang ku pendam sendiri demi mencintaimu.
Aku berharap tinggi untuk dapat masuk ke duniamu sebagai seseorang  dengan status spesial dihatimu. Tapi, semua itu ternyata tak semudah seperti yang kau bayangkan. Masih banyak alasan  mengapa sampai saat ini aku tak berani untuk menyentuh duniamu, padahal aku mengetahui kau telah mempersilahkan aku ‘tuk masuk ke duniamu dan merelakan cinta yang saat ini bertahta di hatimu pergi. Dilema tak hentinya menghantui setiap ruas otakku. Aku tahu kesempatan ini tak akan datang untuk kesekian kalinya, namun mengertilah aku tak ingin ‘kita’ terluka karena jarak, yang sedikit demi sedikit memisahkan aku darimu. Bila nyatanya, anganku yang ingin menjadi bagian dari duniamu memang terwujud. Aku siap untuk mencintaimu, walau jarak dan ruang begitu sulit untuk ‘kita’ tembus. Aku akan menjadikanmu satu-satunya, walau malam dan siang ‘kita’ berbeda. Aku akan selalu berdiri kokoh untuk selalu memantaumu dari kejauhan walau aku  pasti menghadapi badai yang selalu datang untuk membuatku menyerah menggenggammu dari kejauhan.
Namun dibalik semua usahaku apakah kamu dapat melakukannya kembali untukku?
Apakah kamu siap menjaga hatiku hingga nanti aku pulang kembali membawakan kembali cintamu?
Apakah kamu siap berkorban begitu parah untuk ‘kita’?
Perjalanan masih cukup panjang, dan masih banyak keraguan yang terselip dibalik cintaku. Karena ku tahu kau adalah seorang yang tak dapat berjalan sendiri tanpa seseorang disampingmu menggenggam erat tanganmu, walau saat itu pun kau mengetahui ada sebuah hati yang tulus rela terluka parah mencintaimu. Kau tak memilihnya hanya karena dia terlalu takut untuk menggenggammu terlalu cepat, tanpa kau bertanya sebab dan alasannya.

Rasanya, aku ingin pergi dan melupakan ceritamu yang telah banyak membuatku terluka. Tapi, hatiku tak ingin beranjak darimu. Alasannya simple, karena kau telah mampu mengusir awan mendung penuh duka orang yang baru saja pergi dengan awan putih berhias pelangi.
Jika anganku memang tak terwujud, ketahuilah bahwa namamu akan tetap tertulis indah  sebagai seorang yang spesial, yang sempat mewarnai sebagian hariku dengan lelucon anehmu, tingkahmu yang konyol, dan senyuman manis itu kan selalu terngiang di pikiranku yang selalu membuatku tak pernah melupakanmu.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar