Senin, 22 September 2014

Terjebak di 'Friendzone' 2

Di keesokan harinya semangatmu seakan kembali lagi, dan kamu berpikir hal-hal yang indah akan dimulai lagi pada hari itu.
Singkat cerita kamu dan dia merencanakan pertemuan di hari dan waktu yang sama seperti pertemuan sebelum-sebelumnya. Kamu tak sabar menunggu hari itu datang dan berharap akan berjalan baik-baik saja. Hari yang kamu tunggu pun tiba, dari kamu membuka mata kamu seakan melihat semangat yang menggebu-gebu terbang mendekatimu dan masuk kedalam jiwamu serta menyebar keseluruh tubuh.

Waktu pun berlalu, kamu dan dia memulai cerita hari itu, tetap sama di sebuah tempat makan. Banyak cerita antara kamu dan dia yang tertuang dihari itu, dan kamu tetap menjadi pendengar yang baik saat dia menceritakan hal yang konyol hingga hal yang mengagumkan. Pada hari itu pandanganmu selalu tak mau lepas dari sorot matanya, seakan kamu melihat indahnya langit di malam hari yang penuh dengan bintang. Di akhir waktu perjumpaan, adalah waktu yang kamu sukai, yaitu saat dia menggenggam tanganmu erat sambil tetap berbagi cerita apapun kepadamu. Kamu  pun juga menggenggam erat tangannya  yang menandakan bahwa kamu tak ingin sedetik pun menjauh darinya. Namun dia bukanlah Tuhan yang tahu segala hal yang kamu pikirkan dan rasakan. Waktu berjalan begitu cepat, kamu  berpisah dan pulang  dengan mengulum senyuman kebahagiaan karena hari yang kamu tunggu-tunggu berjalan dengan indahnya. Kamu tak dapat tidur memikirkan hal yang baru saja terjadi, pikiranmu  selalu memutarkan cerita tanpa ada yang terputus atau hilang saat kamu bersamanya disebuah layar yang besar hingga terpampang jelas untuk kamu melihatnya. Cerita yang diputarkan pun berakhir, namun kamu tetap ingin melihatnya lebih lama. Lalu kamu melihat handphone-mu untuk membuka jejaring sosialmu dan berharap dia akan sama denganmu  yang dimana kamu selalu menuliskan tentangnya di jejaring sosialmu. Ternyata kamu salah, kamu bukan mendapatkan hal yang menyenangkan karena dia ada menuliskan namamu di jejaring sosialnya, melainkan kamu melihat sebuah nama yang kamu kenali terpampang jelas di bio jejaringnya. Dunia seakan mengecil, pikiran tergoncang, hati pecah menjadi serpihan begitu kecil, semangatmu terbang melayang meninggalkan ragamu. Hancur segala yang kamu rasakan. Ternyata seseorang yang kamu percayakan tidaklah lebih dari seorang pembohong yang ahli bersilat lidah, yang tak punya hati untuk merasakan sakit, dan seorang penjahat yang punya rencana  jahat untuk mengkhianati kamu yang selalu percaya kepadanya. Apa yang hatimu katakan selama ini, bahwa dia tak lebih dari seorang pembohong itu ternyata benar, namun kamu telah dibutakan oleh pikiranmu yang selalu beranggapan baik kepada siapapun terutama kepadanya.  Janji yang selama ini kamu jaga sekarang tak ada artinya. Luka dihatimu semakin tak terkendalikan, tetesan air matamu semakin sering membasahi bantal di setiap malam disaat semua orang sudah terlelap tidur. Kamu harus menerima kenyataan bahwa cintanya bukanlah untukmu, selama ini dia tak pernah tulus berjuang untukmu, dia hanya ingin bermain sejenak di hatimu untuk melihat apakah kamu cocok untuk dijadikan tujuan. Dari awal kamu tak mengetahui sifat buruknya yang selalu mencari cadangan cinta dan akan memilih salah satu cinta yang menurutnya baik, dan kamu adalah salah satunya bukan satu-satunya cinta yang akan dijadikannya tujuan.  Beribu-ribu kata kecewa selalu kamu tuturkan kepadanya, tapi itu tak akan mengubah pilihannya untuk berhenti mencintai orang yang ia cintai dan beralih mencintaimu. Kamu hanyalah sebatas teman dan akan menjadi temannya sampai kapanpun.
Sekarang hatimu telah belajar menerimanya bersama dengan yang lain, namun luka dihatimu tak akan pernah mengering karena kamu merasa sudah terlalu jauh dibohongi olehnya. Hari-harimu tak seperti biasanya, tak ada semangat yang menggebu untuk merasuk jiwa seperti yang kamu rasakan di pagi hari sebelumnya, tak ada lagi senyum yang kamu kulum saat mengingatnya, yang ada hanya tetesan air mata  yang selalu ingin membasahi pipi tak hentinya. Kamu ingin dia mengetahui betapa hancurnya kamu saat itu, namun kamu tak sanggup lagi menjelaskannya. Beribu kata yang telah terucap menurutmu tak cukup untuk mewakili rasa sakitmu. Yang kamu inginkan hanyalah, dia berada di posisimu saat itu untuk merasakan luka yang telah ia rencanakan selancar itu. Disaat rindu melanda, kamu tak berani untuk jujur mengatakannya, yang selalu kamu lakukan hanyalah membaca kembali dari awal pesan yang pernah dia kirimkan untukmu. Disaat kamu memperjuangkannya, kamu telah banyak mengalah hanya demi mempertahankan status ‘Friendzone’ yang ada diantara kamu dan dia, agar dia tak bosan dan pergi menjauhi darimu. Hingga saatnya terluka kamu pun tetap mengalah demi menjaga perasan dia  dan orang yang ia cintai. Ini kelemahanmu yang tak pernah perduli dengan perasaanmu sendiri demi melihat orang yang kamu cintai bahagia walau bukan bersamamu. Bukan kali pertamanya kamu harus mengalah dan melihat orang yang kamu cintai bahagia bersama orang lain dihadapan matamu. Kamu selalu memberikan mereka semangat untuk saling mencintai, padahal hatimu sangat terluka mengatakan hal itu. Dan lebih parahnya lagi disaat kamu tahu mereka telah berpisah kamu rela untuk menyatukan hati mereka lagi untuk dapat bersama kembali. Ntah ini kebaikan yang di anugerahkan oleh Tuhan untukmu, atau kebodohan yang kamu buat sendiri untuk selalu melukai hatimu.
Semua telah terjadi dan yang berlalu  tak mungkin dapat kamu ulangi, manis pahitnya hidup sudah dituliskan Tuhan untuk setiap makhluk yang diciptakanNya. Kamu hanya perlu banyak bersyukur dengan jalan yang telah dituliskan dan direncanakan untukmu. Yang berlalu saatnya kamu jadikan pelajaran untuk memperbaiki setiap yang akan terjadi selanjunya. Dibalik semua yang terjadi tersimpan berjuta hikmah yang tak kamu sadari. Jadikan dia sebagai pelajaran untukmu, dan simpanlah kenangan yang selayaknya untuk kamu ingat, untuk mengingatkan hatimu bahwa kamu pernah jatuh hati kepada seseorang  yang bukan ditakdirkan untukmu.
- Lebih baik diam dan menyembunyikan apa yang dirasakan agar tetap selalu dekat di dunianya-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar