Malam ini aku rindu, rindu ingin
menuliskan sesuatu. Sudah lama aku tak pernah menyapa semua cerita-cerita yang
pernah ku post. Untuk sekarang aku hanya ingin berbagi cerita tentang AKU,
karena selama ini aku banyak menceritakan tentang MEREKA. Mereka yang
mematahkan hatiku. Namun masih ada satu cerita tentang MEREKA yang menyakitiku yang
belum sanggup untuk aku tuliskan. Aku masih dalam tahap mengumpulkan kekuatan
untuk mengutarakan semuanya.
Perkenalkan nama ku Indah, jangan
tanya nama lengkapku tidak panjang namun rumit, karena ada beberapa huruf yang
double dan menggunakan dua huruf konsonan berdampingan. Tapi akan ku beri tahu,
nama lengkap ku Indah Rizqi Mauliddina Chairunnisa. Saat ini sedang duduk
disebuah warung kopi dengan jari mengetik apa yang ada di otak. Umur sudah
menginjak 20 tahun. Tapi aku tetap lah seperti anak-anak bagi lingkungan
keluarga. Anak-anak? Memangnya anak-anak bisa ngerasain galau?
Untuk pertama-tama aku akan membahas tentang
hobiku. Hobi ku tak banyak cukup dua. Menulis
cerita galau ku sendiri atau menangkap sebuah cerita melalui foto. Singkatnya aku
suka menulis dan fotografi. Namun.... hobiku ini tidak datang setiap waktu atau
disebut musiman, bisa dikatakan sesuai mood hati. Hobi itu muncul saat aku
benar-benar merasakan sedih. Tidak bisa dipaksakan datang setiap hari.
Tidak percaya aku pandai menulis
kata-kata dan menghasilkan cerita melalui foto? Bukan mau meninggi, tapi aku
sudah punya dua piala dan dua sertifikat yaitu lomba menulis cerita dan
fotografi. Dan semua itu adalah kali pertama aku mengikuti lomba. Mungkin itu
hanya kebetulan saja aku menang hehehe... Tapi aku serius menceritakan tentang
hobi ku. Aku tak memiliki suara bagus, maka aku tak hobi bernyanyi. Aku tak
bisa memasak, maka aku tak hobi memasak. Namun aku beruntung masih mempunyai
hobi walau datang cuma saat sedih aja.
Oh iya satu lagi, ini hobiku yang
selalu datang tanpa mengenal waktu. GALAU . Tanpa harus dijelasi pasti sudah
pada tahu apa itu galau, aku sedang malas mencari definisi galau. Aku seorang
wanita (wanita aja ya soalnya umur sudah menginjak 20 tahun) yang selalu
menggunakan hati atau perasaan. Bisa dihitung 40% logika sisanya hati atau
perasaan. Karena itu aku sadari, aku termasuk wanita melankolis. Sebagai contoh,
aku tidak kuat melihat seseorang menangis atau merasakan sedih, seperti magnet
aku juga bisa merasakan kesedihan yang sama.
Aku tidak pandai menutupi
kebohongan, yang ada selalu di bohongi. Tidak lihai dalam menyembunyikan
kebohongan, aku menjadi wanita yang selalu berfikir positif walau sebenarnya
aku tahu kenyataan yang sebenarnya membohongiku.
Dampak aku selalu berfikir
positif membawa pengaruh dalam pertemanan / pergaulanku. Dari beberapa responden
hasil wawancara kepada orang-orang tentang AKU. Dimana aku berada, aku dapat
diterima dengan baik. Karena aku memang tidak bisa menyakiti hati seorangpun
atau bisa dibilang tidak pandai dalam mengumpulkan musuh, walau.. seumpama beribu
pisau ditancapkan tepat di jantungku, aku terluka namun aku akan kembali
seperti semula dengan seiringnya waktu. Aku seorang teman yang paling mengerti.
Tak percaya? Aku selalu dicari saat mereka tak mampu menampung kesedihan
sendiri. Karena aku tak bermain ego saat seseorang bercerita. Ego yang ku
maksud adalah, aku tak sedikit pun menyanggah cerita mereka demi mendengarkan
ceritaku juga. Karena disaat seseorang terpuruk, hal paling mudah dilakukan
adalah mendengarkan semua keluh kesahnya, bila memang bisa membantu, bantu lah
semaksimal mungkin.
Namun terkadang aku merasa tak
adil. Tak adil mengapa? Disaat aku sendiri tak mampu menampung sedihku, aku tak
mudah menemukan seorang teman yang mampu mendengarkan keluh kesahku tanpa bermain
ego. Dari itu, aku selalu mencoba menggali dan menanam sedalam mungkin
kesedihan yang menyesakkan dada.
Aku terkenal sebagi seorang yang
periang, bisa dikata memberi warna disetiap pertemuan atau pertemanan. Ya karena
aku memang bukan seorang individual atau tak bisa dalam keadaan sendirian. Saat
ramai disanalah aku hidup, saat sepi disitulah aku mati. Aku bisa menunjukkan semua
rasa bahagia disetiap pertemuan, setelah itu aku akan kembali menjadi orang
yang paling sedih jika pertemuan itu berakhir. Ku ulangi lagi, aku seorang
wanita melankolis.
Disaat sedih aku memang senang
menikmati kesedihanku sendiri, walau disaat ramai jika aku merasakan sedih, aku
akan merasa redup. Sering kali ku telan sendiri, karena bagiku tak semua orang
dapat mendengarkan ceritamu, dan lebih parahnya lagi mereka hanya ingin tahu
bukan membantu. Itu sebab, aku lebih sering menabur kesenangan daripada
kesedihan. Kesedihan cukuplah kau nikmati sendiri dengan caramu. Disaat sedih
inilah semua imajinasi tak terbendung, aku akan menulis apa yang ingin aku
sampaikan, dan memfoto apa yang ada disekitarku. Dengan cara itulah aku
mengobati semua gundah.
Aku wanita yang mudah
menggantungkan semangat kepada orang lain. Cukup dua semangat yang dapat
membunuh asa ku, mematikan segala kesenangan yang ada. Hingga untuk senyum
menghibur diri sendiri aku tak mampu, jika semangat itu pergi.
Jujur sebenarnya masih banyak
yang ingin ku utarakan, namun harus ada batas antara kehidupan privasi. Sekian dan
terima kasih .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar